rain

 

text GH 19feb2016

 

Hejo Ngemploh Leuweungna - Recet Manukna - Cur Cor Caina - Ting Siriwik Laukna - Makmur Jelemana Tentang Kami

Tentang Kami

IMG-20160305-WA0002

Gerakan Hejo adalah sebuah perkumpulan atas dasar kesadaran dan keprihatinan karena krisis lingkungan di Jawa Barat terutama dalam dekade 10 tahun terakhir ini. Kami menghimpun perkumpulan ini dalam naungan Bapak Solihin GP (Mantan Gubernur Jawa Barat) yang fenomenal dan tak kenal lelah untuk menghijaukan kembali tatar Jawa Barat yang mayoritas berbudaya sunda. Misi kita adalah mengembalikan kebesaran anugerah Tuhan untuk bisa lebih bermanfaat sebesar-besarnya kepada kemakmuran masyarakat. Oleh karena itu visi dari gerakan hejo adalah “Hejo ngemploh leuweungna, recet manukna, curcor caina, tingsiriwik laukna, jeung makmur jelemana”. Artinya bahwa hijau ini dilambangkan dengan hijau dari pohon yang identik dengan sumber air yang sekaligus sebagai tempat menyimpan air. Bagaimana kita bisa bertani dan berkehidupan yang wajar kalo kita tidak memilik air. Air sangat erat kaitannya dengan pohon dan tidak mungkin berbicara air tanpa adanya pohon. Oleh karena itu apa yang menjadi tujuan utama adalah bagaimana kita menghijaukan lagi tatar jawa barat ini lalu kemudian kita mempertahankan berbagai kekayaan yang kita miliki, termasuk di dalamnya adalah spesies seperti ikan dan sebagainya. Bahwa yang terpenting adalah gerekan hejo melakukan gerakan-gerakan melalui pendekatan-pendekatan budaya.

Gerakan Hejo punya 3 (tiga) gerakan besar yakni menyangkut ‘ekonomi’, ‘ekologi’, dan ‘edukasi’. Gerakan ini menempatkan alam dan bumi ini sebagaimana pepatah masyarakat adat sunda yang mengatakan bahwa “Langit bapak dan indung bumi” dimana kita memperlakukan alam semesta ini sebaik mungkin dan sehormat mungkin. Maka dalam konteks ini segala perilaku kita harus diarahkan tetap dalam pemikiran keseimbangan dimana “manusia sebagai makhluk eling, hewan sebagai makhluk nyaring, dan tumbuh-tumbuhan sebagai makhluk cicing” sehingga 3 (tiga) makhluk hidup yang memiliki kekuatan ini tetap menciptakan keseimbangan dalam pendekatan wawasan dan ramah lingkungan.

Gerakan Hejo diresmikan dalam mata acara Sawala Lingkungan, di Kawasan Ekowisata dan Budaya Alam Santosa, Pasir Impun, Kabupaten Bandung yang juga sekaligus memperingati Hari Pohon Sedunia setiap tanggal 25 November 2015. “Ini gerakan moral untuk menggugah warga Jawa Barat dan Indonesia agar kembali ke jatidiri bangsa yang berbudaya tinggi. Pohon adalah faktor inti keseimbangan alam, yang berperan sebagai penyimpanan dan sumber air selain memproduksi oksigen.”

Menghijaukan bumi Jawa Barat dengan konsep darurat lingkungan, tidak sekedar menjadi jargon belaka. Juga menjadi pemantik yang langsung menjadi karya nyata. Keterlibatan Baresan Olot Masyarakat Adat (BOMA) Jawa Barat, dimana Eka Santosa sebagai Pengaping (Penasihat)-nya, dapat memperlancar penghutanan kembali dengan kearifan lokal dari para warga masyarakat adat yang tersebar di pelosok Jawa Barat. Tidak ketinggalan, peran serta Forum DAS Citarum yang diakselerasikan dengan BOMA Jawa Barat, dapat memperkuat kesadaran warga Jawa Barat dalam hal kerusakan lingkungan. Terutama hutan, sungai dan pesisir selatan serta utara Jawa Barat.

visi

Visi

Hejo ngemploh leuweungna, recet manukna, cur cor caina, ting siriwik laukna, makmur jelemana.

Hutan mengijau, burung berkicau, air menggelontor, ikan berkecipak, makmurlah manusianya.

 

misi

Misi

Menjadikan lingkungan sebagai basis atau landasan penyadaran warga Jawa Barat dalam peningkatan kehidupannya.

Pembangunan harus berorientasi peningkatan kesejahteraan, demi kemakmuran wilayah, serta kelestarian lingkungan.

Filosofi Alam Santosa

logo AS foundation

Ketika menciptakan  logo ‘ Alam santosa ‘ , kami ingin menggali ke akar sejarah kita , dan merefleksikan citra & profil pendiri, Alam Santosa, Bapak EkaSantosa, dalam jejak kaki gajah Kebon Kopi . Jejak kaki gajah Kebon Kopi, berarti dua prasasti yang berbeda, keduanya yang ditemukan di desa Kampung Muara dekat Bogor, di Provinsi Jawa Barat Indonesia.

Yang pertama, disebut Tapak Gajah, jejak kaki gajah yang ditemukan pada tahun 1864 ketika membuka hutan/lahan untuk membuat perkebunan kopi atau Kebon kopi (Dalam bahasa melayu artinya Kebun Kopi). Ini terdiri dari batu yang diukir jejak kaki gajah dan teks yang menggunakan alfabet Pallava , dari India selatan dan juga dalam bahasa Sansekerta: Jayavisalasyatarumendrasyahastinahairawavatabhasyavibhatidampadadvayam . Yang artinya: ‘ Berikut ini adalah jejak sepasang kaki – seperti jejak kaki  Airawata, sebagai simbol kemenangan Tarumaet agung … .. ( ? ) . ‘Prasasti ini dibuat sekitar tahun 450 Masehi, dan dipersembahkan untuk Raja Purnawaran dari kerajaan Tarumanagara .

Yang kedua, disebut Batu Dakon, batu diukir berbentuk Congklak, dibuat sekitar 932 masehi dan ditulis dalam bahasa Melayu, yang menggambarkan  ” raja Sunda” Profil dari Bapak EkaSantosa, yang memilki “perjalanan” seperti Presiden Soekarno (Koesno Sosrodihardjo), ayah dari bangsa Indonesia, sehingga dapat dikategorikan masuk dalam prasasti jejak gajah dari Kebon Kopi yang dibungkus dalam sebuah gelombang hijau Optimis dan Dinamis

 

Inisiator

Solihin G.P.

Solihin G.P.

Pembina Gerakan Hejo

Gubernur Jawa Barat periode 1970 – 1974. Panglima Kodam XIV Hasanuddin, 1965-1968, Makassar. Gubernur Akabri Umum dan Darat, 1968-1970, Magelang. Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan, 1977-1992. Anggota DPA, 1992-1997. Anggota MPR, 1998. Dan sekarang aktif sebagai pembina gerakan hejo.

Eka Santosa

Eka Santosa

Ketua Umum Gerakan Hejo

Pimpinan Komisi II DPR-RI dari Fraksi PDI-Perjuangan (2004-2009). Sebelumnya ia menjabat sebagai Ketua DPRD Jawa Barat pada periode 1999-2004. Dan sekarang menjabat Ketua Umum Gerakan Hejo, Pengaping Barisan Olot Masyarakat Adat Jawa Barat & Ketua Forum DAS Citarum.

Saladin Belhacel

Saladin Belhacel

Director of International Relations

Pemenang kompetisi EUROPAN arsitektur pertama kalinya pada tahun 1987. Bekerja di beberapa negara Eropa; Belgia, Perancis, Spanyol, Italia, dll. Di Asia; Jepang, Malaysia, India, dan sekarang di Indonesia. Tinggal di beberapa kota Paris, Osaka, Alicante, Yalova dan sekarang di Indonesia.

Solihin G.P.

Solihin G.P.

Pembina Gerakan Hejo

Gubernur Jawa Barat periode 1970 – 1974. Panglima Kodam XIV Hasanuddin, 1965-1968, Makassar. Gubernur Akabri Umum dan Darat, 1968-1970, Magelang. Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan, 1977-1992. Anggota DPA, 1992-1997. Anggota MPR, 1998. Dan sekarang aktif sebagai pembina gerakan hejo.

Eka Santosa

Eka Santosa

Ketua Umum Gerakan Hejo

Pimpinan Komisi II DPR-RI dari Fraksi PDI-Perjuangan (2004-2009). Sebelumnya ia menjabat sebagai Ketua DPRD Jawa Barat pada periode 1999-2004. Dan sekarang menjabat Ketua Umum Gerakan Hejo, Pengaping Barisan Olot Masyarakat Adat Jawa Barat & Ketua Forum DAS Citarum.

Saladin Belhacel

Saladin Belhacel

Director of International Relations

Pemenang kompetisi EUROPAN arsitektur pertama kalinya pada tahun 1987. Bekerja di beberapa negara Eropa; Belgia, Perancis, Spanyol, Italia, dll. Di Asia; Jepang, Malaysia, India, dan sekarang di Indonesia. Tinggal di beberapa kota Paris, Osaka, Alicante, Yalova dan sekarang di Indonesia.

Suku Baduy

Urang Kanekes, Orang Kanekes atau orang Baduy/Badui adalah suatu kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda di wilayahKabupaten Lebak, Banten. Populasi mereka sekitar 5.000 hingga 8.000 orang, dan mereka merupakan salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar. Selain itu mereka juga memiliki keyakinan tabu untuk difoto, khususnya penduduk wilayah Baduy dalam.

Etimologi

Sebutan “Baduy” merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau “orang Kanekes” sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo (Garna, 1993).

Wilayah

Wilayah Kanekes secara geografis terletak pada koordinat 6°27’27” – 6°30’0” LS dan 108°3’9” – 106°4’55” BT (Permana, 2001). Mereka bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung. Wilayah yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300 – 600 m di atas permukaan laut (DPL) tersebut mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45%, yang merupakan tanah vulkanik (di bagian utara), tanah endapan (di bagian tengah), dan tanah campuran (di bagian selatan). suhu rata-rata 20 °C. Tiga desa utama orang Kanekes Dalam adalah Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo.

Bahasa

Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek Sunda–Banten. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Orang Kanekes Dalam tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat-istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja.

Orang Kanekes tidak mengenal sekolah, karena pendidikan formal berlawanan dengan adat-istiadat mereka. Mereka menolak usulan pemerintah untuk membangun fasilitas sekolah di desa-desa mereka. Bahkan hingga hari ini, walaupun sejak era Suharto pemerintah telah berusaha memaksa mereka untuk mengubah cara hidup mereka dan membangun fasilitas sekolah modern di wilayah mereka, orang Kanekes masih menolak usaha pemerintah tersebut. Akibatnya, mayoritas orang Kanekes tidak dapat membaca atau menulis.

Kelompok Masyarakat

Orang Kanekes memiliki hubungan sejarah dengan orang Sunda. Penampilan fisik dan bahasa mereka mirip dengan orang-orang Sunda pada umumnya. Satu-satunya perbedaan adalah kepercayaan dan cara hidup mereka. Orang Kanekes menutup diri dari pengaruh dunia luar dan secara ketat menjaga cara hidup mereka yang tradisional, sedangkan orang Sunda lebih terbuka kepada pengaruh asing dan mayoritas memeluk Islam.

Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtu, panamping, dan dangka (Permana, 2001).

Kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Kanekes Dalam (Baduy Dalam), yang paling ketat mengikuti adat, yaitu warga yang tinggal di tiga kampung: Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik. Ciri khas Orang Kanekes Dalam adalah pakaiannya berwarna putih alami dan biru tua serta memakai ikat kepala putih. Mereka dilarang secara adat untuk bertemu dengan orang asing.

Kanekes Dalam adalah bagian dari keseluruhan orang Kanekes. Tidak seperti Kanekes Luar, warga Kanekes Dalam masih memegang teguh adat-istiadat nenek moyang mereka.

Sebagian peraturan yang dianut oleh suku Kanekes Dalam antara lain:

  • Tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasi
  • Tidak diperkenankan menggunakan alas kaki
  • Pintu rumah harus menghadap ke utara/selatan (kecuali rumah sang Pu’un atau ketua adat)
  • Larangan menggunakan alat elektronik (teknologi)
  • Menggunakan kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang ditenun dan dijahit sendiri serta tidak diperbolehkan menggunakan pakaian modern. Kelompok masyarakat kedua yang disebut panamping adalah mereka yang dikenal sebagai Kanekes Luar (Baduy Luar), yang tinggal di berbagai kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Kanekes Dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya. Masyarakat Kanekes Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam.

Kanekes Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Kanekes Dalam. Ada beberapa hal yang menyebabkan dikeluarkannya warga Kanekes Dalam ke Kanekes Luar:

  • Mereka telah melanggar adat masyarakat Kanekes Dalam.
  • Berkeinginan untuk keluar dari Kanekes Dalam
  • Menikah dengan anggota Kanekes Luar

Ciri-ciri masyarakat orang Kanekes Luar

  • Mereka telah mengenal teknologi, seperti peralatan elektronik.
  • Proses pembangunan rumah penduduk Kanekes Luar telah menggunakan alat-alat bantu, seperti gergaji, palu, paku, dll, yang sebelumnya dilarang oleh adat Kanekes Dalam.
  • Menggunakan pakaian adat dengan warna hitam atau biru tua (untuk laki-laki), yang menandakan bahwa mereka tidak suci. Kadang menggunakan pakaian modern seperti kaos oblong dan celana jeans.
  • Menggunakan peralatan rumah tangga modern, seperti kasur, bantal, piring & gelas kaca & plastik.
  • Mereka tinggal di luar wilayah Kanekes Dalam.
  • Sebagian di antara mereka telah terpengaruh dan berpindah agama menjadi seorang muslim dalam jumlah cukup signifikan.

Apabila Kanekes Dalam dan Kanekes Luar tinggal di wilayah Kanekes, maka “Kanekes Dangka” tinggal di luar wilayah Kanekes, dan pada saat ini tinggal 2 kampung yang tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Kampung Dangka tersebut berfungsi sebagai semacam buffer zone atas pengaruh dari luar (Permana, 2001).

Asal-usul

Menurut kepercayaan yang mereka anut, orang Kanekes mengaku keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga Kanekes mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia.

Pendapat mengenai asal usul orang Kanekes berbeda dengan pendapat para ahli sejarah, yang mendasarkan pendapatnya dengan cara sintesis dari beberapa bukti sejarah berupa prasasti, catatan perjalanan pelaut Portugis dan Tiongkok, serta cerita rakyat mengenai ‘Tatar Sunda’ yang cukup minim keberadaannya. Masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda yang sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di Pakuan Pajajaran (sekitar Bogor sekarang). Sebelum berdirinya Kesultanan Banten, wilayah ujung barat pulau Jawa ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Sunda. Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar. Sungai Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai digunakan untuk pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Dengan demikian penguasa wilayah tersebut, yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umum menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan. Untuk itu diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung Kendeng tersebut (Adimihardja, 2000). Perbedaan pendapat tersebut membawa kepada dugaan bahwa pada masa yang lalu, identitas dan kesejarahan mereka sengaja ditutup, yang mungkin adalah untuk melindungi komunitas Kanekes sendiri dari serangan musuh-musuh Pajajaran.

Van Tricht, seorang dokter yang pernah melakukan riset kesehatan pada tahun 1928, menyangkal teori tersebut. Menurut dia, orang Kanekes adalah penduduk asli daerah tersebut yang mempunyai daya tolak kuat terhadap pengaruh luar (Garna, 1993b: 146). Orang Kanekes sendiri pun menolak jika dikatakan bahwa mereka berasal dari orang-orang pelarian dari Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda. Menurut Danasasmita dan Djatisunda (1986: 4-5) orang Baduy merupakan penduduk setempat yang dijadikan mandala’ (kawasan suci) secara resmi oleh raja, karena penduduknya berkewajiban memelihara kabuyutan (tempat pemujaan leluhur atau nenek moyang), bukan agama Hindu atau Budha. Kebuyutan di daerah ini dikenal dengan kabuyutan Jati Sunda atau ‘Sunda Asli’ atau Sunda Wiwitan (wiwitan=asli, asal, pokok, jati). Oleh karena itulah agama asli mereka pun diberi nama Sunda Wiwitan. Raja yang menjadikan wilayah Baduy sebagai mandala adalah Rakeyan Darmasiksa.

Kepercayaan

Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai Sunda Wiwitan berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang (animisme) yang pada perkembangan selanjutnya juga dipengaruhi oleh agama Buddha, Hindu. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes (Garna, 1993). Isi terpenting dari ‘pikukuh’ (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep “tanpa perubahan apa pun”, atau perubahan sesedikit mungkin: Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung. (Panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/tidak boleh disambung)

Tabu tersebut dalam kehidupan sehari-hari diinterpretasikan secara harafiah. Di bidang pertanian, bentuk pikukuh tersebut adalah dengan tidak mengubah kontur lahan bagi ladang, sehingga cara berladangnya sangat sederhana, tidak mengolah lahan dengan bajak, tidak membuat terasering, hanya menanam dengan tugal, yaitu sepotong bambuyang diruncingkan. Pada pembangunan rumah juga kontur permukaan tanah dibiarkan apa adanya, sehingga tiang penyangga rumah Kanekes seringkali tidak sama panjang. Perkataan dan tindakan mereka pun jujur, polos, tanpa basa-basi, bahkan dalam berdagang mereka tidak melakukan tawar-menawar.

Objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Kanekes adalah Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. Orang Kanekes mengunjungi lokasi tersebut untuk melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan Kalima, yang pada tahun 2003 bertepatan dengan bulan Juli. Hanya Pu’un atau ketua adat tertinggi dan beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang mengikuti rombongan pemujaan tersebut. Di kompleks Arca Domas tersebut terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan. Apabila pada saat pemujaan ditemukan batu lumpang tersebut ada dalam keadaan penuh air yang jernih, maka bagi masyarakat Kanekes itu merupakan pertanda bahwa hujan pada tahun tersebut akan banyak turun, dan panen akan berhasil baik. Sebaliknya, apabila batu lumpang kering atau berair keruh, maka merupakan pertanda kegagalan panen (Permana, 2003a).

Bagi sebagian kalangan, berkaitan dengan keteguhan masyarakatnya, kepercayaan yang dianut masyarakat adat Kanekes ini mencerminkan kepercayaan keagamaan masyarakat Sunda secara umum sebelum masuknya Islam.

Pemerintahan

Masyarakat Kanekes mengenal dua sistem pemerintahan, yaitu sistem nasional, yang mengikuti aturan negara Indonesia, dan sistem adat yang mengikuti adat istiadat yang dipercaya masyarakat. Kedua sistem tersebut digabung atau diakulturasikan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi benturan. Secara nasional, penduduk Kanekes dipimpin oleh kepala desa yang disebut sebagai jaro pamarentah, yang ada di bawah camat, sedangkan secara adat tunduk pada pimpinan adat Kanekes yang tertinggi, yaitu “Pu’un”.

Pemimpin adat tertinggi dalam masyarakat Kanekes adalah “Pu’un” yang ada di tiga kampung tangtu. Jabatan tersebut berlangsung turun-temurun, namun tidak otomatis dari bapak ke anak, melainkan dapat juga kerabat lainnya. Jangka waktu jabatan Pu’un tidak ditentukan, hanya berdasarkan pada kemampuan seseorang memegang jabatan tersebut.

Mata pencaharian

Sebagaimana yang telah terjadi selama ratusan tahun, maka mata pencaharian utama masyarakat Kanekes adalah bertani padi huma. Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan seperti durian dan asam keranji, serta madu hutan.

Interaksi dengan masyarakat luar

Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang ini ketat mengikuti adat-istiadat bukan merupakan masyarakat terasing, terpencil, ataupun masyarakat yang terisolasi dari perkembangan dunia luar. Berdirinya Kesultanan Banten yang secara otomatis memasukkan Kanekes ke dalam wilayah kekuasaannya pun tidak lepas dari kesadaran mereka. Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa, masyarakat Kanekes secara rutin melaksanakan seba ke Kesultanan Banten (Garna, 1993). Sampai sekarang, upacara seba tersebut terus dilangsungkan setahun sekali, berupa menghantar hasil bumi (padi, palawija, buah-buahan) kepada Gubernur Banten (sebelumnya ke Gubernur Jawa Barat), melalui bupati Kabupaten Lebak. Di bidang pertanian, penduduk Kanekes Luar berinteraksi erat dengan masyarakat luar, misalnya dalam sewa-menyewa tanah, dan tenaga buruh.

Perdagangan yang pada waktu yang lampau dilakukan secara barter, sekarang ini telah mempergunakan mata uang rupiah biasa. Orang Kanekes menjual hasil buah-buahan, madu, dan gula kawung/aren melalui para tengkulak. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Kanekes terletak di luar wilayah Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger.

Pada saat ini orang luar yang mengunjungi wilayah Kanekes semakin meningkat sampai dengan ratusan orang per kali kunjungan, biasanya merupakan remaja dari sekolah, mahasiswa, dan juga para pengunjung dewasa lainnya. Mereka menerima para pengunjung tersebut, bahkan untuk menginap satu malam, dengan ketentuan bahwa pengunjung menuruti adat-istiadat yang berlaku di sana. Aturan adat tersebut antara lain tidak boleh berfoto di wilayah Kanekes Dalam, tidak menggunakan sabun atau odol di sungai. Namun, wilayah Kanekes tetap terlarang bagi orang asing (non-WNI). Beberapa wartawan asing yang mencoba masuk sampai sekarang selalu ditolak masuk.

Pada saat pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak, orang Kanekes juga senang berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan syarat harus berjalan kaki. Pada umumnya mereka pergi dalam rombongan kecil yang terdiri dari 3 sampai 5 orang, berkunjung ke rumah kenalan yang pernah datang ke Kanekes sambil menjual madu dan hasil kerajinan tangan. Dalam kunjungan tersebut biasanya mereka mendapatkan tambahan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup.

sumber: wikipedia

Pentingnya Suku Baduy Masuk Daftar UNESCO

IMG-20160525-WA0004

Gerakan Hejo mendapatkan dukungan dari  Professor C.Friedberg, mantan istri Professor Louis Berthe, untuk menempatkan Baduy dalam MAB Unesco.

Baduy adalah salah satu suku yang berada di Jawa Barat (pulau jawa bagian barat) yang masih mempertahankan tradisi dan pola hidup yang mereka yakini sudah ada sejak ratusan tahun bahkan ribuan tahun yang lalu. Di era modern seperti sekarang, tidak banyak suku bangsa di dunia ini yang hidup dengan keunikan budayanya dalam kehidupan sehari-hari seperti orang-orang suku Baduy. Ditengah percepatan perkembangan budaya, orang-orang Baduy berusaha untuk tetap mempertahankan adat istiadatnya. Suku baduy berkembang sangat cepat, oleh karena itu melindungi keberadaan suku Baduy adalah hal yang sangat penting. Satu cara untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan mendaftarkan suku Baduy ke UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Inilah tujuannya, target yang harus dicapai sekarang adalah menetapkan suku Baduy dalam daftar warisan cagar budaya dunia UNESCO. Ini adalah tujuannya, tetapi tujuan kami sekarang adalah menempatkan Baduy pada urutan teratas daftar warisan budaya dunia. “Mereka terancam punah”.

Bhinneka Tunggal Ika

Pentingnya Baduy masuk dalam daftar M.A.B UNESCO

Baduy adalah kelompok kecil yang tinggal di sisi barat Pulau Jawa tepatnya di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Banten yang masih melestarikan tradisi dan pola kehidupan mereka yang diyakini telah lama sekitar ratusan atau ribuan tahun. Dalam era modern ini, tidak banyak kelompok etnis di dunia yang hidup dengan praktek budaya mereka sendiri secara unik seperti orang Baduy. Di tengah perkembangan yang pesat di wilayah sekitarnya, orang Baduy berjuang untuk mempertahankan identitas mereka serta adat istiadat mereka.

Kelompok etnis Baduy cepat berubah.

Oleh karena itu perlindungan untuk mempertahankan eksistensi masyararakat Baduy sangatlah penting. Kita harus menemukan bagaimana kita bisa mengontrol itu. Salah satu cara untuk mencapai tujuan itu adalah menempatkan baduy dalam daftar M.A.B UNESCO sebagai langkah pertama, pada tahap kedua kami mencoba untuk menempatkan mereka dalam daftar warisan dunia Unesco dan daftar Unesco yang berwujud untuk musik mereka.
Ini adalah tujuan, tapi target kami sekarang adalah untuk menempatkan Baduy dalam daftar M.A.B UNESCO.

Mengapa ”Gerakan hejo”, perlu untuk melindungi minoritas etnis Baduy?

”Gerakan hejo” memiliki komitmen dengan Baduy atas arahan dan bimbingan Baresan Olot Mastarakat Adat Jawa Barat. Saya bertemu pemimpin spiritual yaitu Pu’un dari Cikertawana yang dikonfirmasi oleh saya bahwa tiga Pu’un dari Cibeo, Cikeusik dan Cikertawana memberikan persetujuan bahwa pu’un dan Jaro diwakili oleh ”Gerakan hejo”, untuk mendaftarkan mereka pada daftar Unesco sebagai warisan dunia untuk perlindungan mereka.
Selama pertemuan di Cikertawana, Pu’un melayani kami. Saya di dampingi oleh penerjemah saya dan masyarakat baduy panamping disajikan kopi instan kemasan dengan air panas mendidih di metalik. Saya sangat terkejut dan saya pikir mereka benar-benar terancam. Saya juga melihat di mana-mana selama kunjungan saya di dalam domain mereka banyak sampah plastik, orang luar Baduy dengan kerbau walaupun tidak memiliki izin dan orang-orang dari luar mencoba untuk menjual gadget plastik tidak berguna dari Cina. Ini hanya pemberitahuan saya selama perjalanan ini. “Jika situasi ini terus seperti itu masyarakat Baduy akan berakhir dan menghilang”.
Masyarakat Baduy hidup sepenuhnya secara selaras dengan hutan. Mereka melindungi hutan dan hutan menjaga esensi yang suci dari misi mereka. Hilangnya orang-orang Baduy pasti akan mengakibatkan hilangnya bagian terakhir dari hutan hujan tropis di Wilayah Tatar Sunda (Jawa Barat & Banten). Ini akan menjadi sinyal yang sangat buruk untuk semua etnis di Indonesia dengan membiarkan menghilangnya kumpulan ikonik ini.

Siapa itu ”Gerakan Hejo”?

Gerakan hejo adalah sebuah perkumpulan yang memiliki kesadaran bersama tentang lingkungan dan perlunya gerakan untuk memperbaiki kerusakan alam, terutama di Wilayah Tatar Sunda dan Indonesia pada umumnya, dengan cara pendekatan melalui kearifan budaya lokal dan gerakan rakyat semesta. Dalam aktivitasnya perkumpulan ini juga sebagaimana OMS (Organisasi Masyarakat Sipil) dari Indonesia dimana yang sebagai penggagas adalah Solihin GP (​​Penasehat), Eka Santosa (Ketua) dan Salah Eddine Belhacel (Direktur Hubungan Internasional).
Yang menjadi VISI Gerakan Hejo adalah sebagaimana yang di gambarkan oleh olot-olot sunda tentang kebesaran alam, yakni : “Hejo ngemploh leuweungna, recet manukna, curcor caina, tingsiriwik laukna, makmur jelemana”. (Hijau lebat hutannya, berkicau burungnya, menggelontor airnya, berkecipak ikannya, dan makmur manusianya).
Gerakan hejo, memiliki 3 (tiga) gerakan besar yakni menyangkut ekologi, edukasi, dan ekonomi. Gerakan kita menempatkan alam dan bumi sebagai sesuai pepatah orang Sunda asli yang mengatakan bahwa ”Bapa Langit dan Indung Bumi” (Bapak Langit dan Ibu Bumi), dimana kita memperlakukan alam semesta sebaik mungkin dan penuh hormat. Gerakan Hejo diresmikan pada acara Sawala Lingkungan di Kawasan Wisata Eco Wisata dan Budaya “Alam Santosa” wilayah Pasir Impun, Kabupaten Bandung yang juga bertepatan peringatan Hari Pohon Sedunia pada tanggal 25 November 2015. Ini adalah gerakan moral untuk menginspirasi warga Barat Jawa dan Indonesia dalam rangka untuk kembali mengidentifikasi bangsa yang beradab tinggi. Pohon adalah keseimbangan faktor inti alam yang bertindak sebagai sumber air dari penyimpanan dan menghasilkan oksigen ”.

Buktina ngaraheutan sapanjangna
Pupuasan naon pilandongeunana
Mingkin lami badan tèh tambah tunggara
Aduh ampun seueur pisan gogodaanana

Dinyanyikan oleh Raida dari Kampung Marengo dan direkam oleh Raida di Kaduketug 3, Desa Kanekes, 25 Maret 2003.
Disadur dari buku : Le patrimoine culturel immater’riel Babel
Les tentations des ascetes : Patrimoine culturel immaterial des baduy dans le Banten du sud (‘Indone’sie). Oleh : Wim Van Zanten, halaman 124.
Esensi dari lagu ini adalah rintihan dan sekaligus sindiran dari masyarakat baduy terhadap keadaan yang mereka hadapi saat ini.

Penutup

Negara Perancis memiliki 41 situs warisan budaya dunia pada daftar Unesco dan 31 pada daftar tentative. Jepang memiliki 19 Dunia situs warisan budaya dunia pada daftar Unesco dan 32 situs dalam daftar tentatif. Tapi, Indonesia hanya memiliki 8 warisan situs Dunia pada daftar Unesco dan 18 pada daftar sementara !!!!
Indonesia, itu adalah negara yang sangat kaya, kepulauan pertama di Dunia dengan lebih dari 17.000 pulau, 1.034 etnis dan hutan hujan tropis terbesar kedua di dunia setelah Brasil.
Situasi ini harus berubah, kita harus mengubah itu, dan Gerakan hejo ingin memulai sinyal baik ini diawali dengan permasalahan Baduy.
Yang Terhormat Bapak dan Ibu, kami yakin Anda ingin mendukung Gerakan hejo untuk alasan mulia ini dan Gerakan hejo akan sangat bangga untuk membuat semua usahanya untuk itu.

Oleh : Saladin Belhacel dan Eka Santosa

Program

Ekosistem

Permasalahan lingkungan di Indonesia meningkat luar biasa akhir-akhir ini, masalah tersebut terjadi pada berbagai ekosistem, seperti yang terjadi di kawasan pertanian, hutan, pesisir, laut, dan perkotaan. Oleh karena itu diperlukan usaha dengan berbagai pendekatan. Pendekatan yang dibahas adalah cara ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, penegakan hukum, dan etika lingkungan. Untuk mengatasi permasalahan lingkungan yang menjadi sangat kompleks diperlukan berbagai upaya pendekatan sekaligus secara sinergis.

Budaya

Galibnya, jati diri sebuah bangsa semodern apa pun, harus tetap berpijak pada kearifan lokal – mencintai lingkungan hidup dengan segala konsekuensinya.

Ekonomi

Membantu pemasaran dan peningkatan mutu produk lokal seperti beras organik hitam, gula merah, seni sunda & kerajinan tangan, sabun organik, minyak essential, artikel rotan dan sebagainya, agar bisa besaing di pasar dunia.

 

 

Volunteer

Gerakan Hejo harus mengakar hingga ke tingkat terbawah, yaitu kelurahan/desa di 27 kota/kabupaten di Jawa Barat, apabila hal ini telah terbentuk akan memudahkan untuk memobilisasi sesuai visi dan misi gerakan ini.

 

  • Drs. H. Eka Santosa

    Nyoreang alam katukang, nyawang alam nu bakal datang.

    Drs. H. Eka Santosa
  • Dr. Edward O. Wilson

    Nature holds the key to our aesthetic, intellectual, cognitive and even spiritual satisfaction.

    Dr. Edward O. Wilson
  • Phillip Pulfrey

    All I want is to stand in a field and to smell green, to taste air, to feel the earth want me, without all this concrete hating me.

    Phillip Pulfrey
  •  
  • Drs. H. Eka Santosa

    Bumi sudah memberikan begitu banyak kepada kita. Tanah, air, udara, dan segala isinya. Kini saatnya kita mengasihi alam, merawat bumi, dan menjaga semesta. Budayakan menanam pohon demi kelangsungan bumi tercinta. Karena bumi adalah rumah kita.

    Drs. H. Eka Santosa
  •  
  • Drs. H. Eka Santosa

    Nyoreang alam katukang, nyawang alam nu bakal datang.

    Drs. H. Eka Santosa
  • Dr. Edward O. Wilson

    Nature holds the key to our aesthetic, intellectual, cognitive and even spiritual satisfaction.

    Dr. Edward O. Wilson
  • Phillip Pulfrey

    All I want is to stand in a field and to smell green, to taste air, to feel the earth want me, without all this concrete hating me.

    Phillip Pulfrey
  •  
  • Drs. H. Eka Santosa

    Bumi sudah memberikan begitu banyak kepada kita. Tanah, air, udara, dan segala isinya. Kini saatnya kita mengasihi alam, merawat bumi, dan menjaga semesta. Budayakan menanam pohon demi kelangsungan bumi tercinta. Karena bumi adalah rumah kita.

    Drs. H. Eka Santosa
  •  

 

Organigram

strukpng2

Media